Sahabatku, coba renungkan...
Sakitnya fisik pasti bisa diobati, pasti tahu letaknya, pasti dapat mengira pedihnya. Namun sakitnya hati siapa yang tahu kedalamannya. Padahal, hati yang sudah tergores itu ibarat paku yang menempel di sebuah dinding. Walau paku tersebut sudah dicabut bekasnya akan terus melekat.
Tulisan mungkin dapat kita hapus, namun siapa yang mampu menarik kata-kata yang sudah dilontarkan?
Maka dari itu pepatah klasik mengatakan bahwa lidah memang tak bertulang. Artinya dengan mudah, bahkan dalam hitungan detik lisan bisa dengan mudah mengeluarkan sederet kata tajam.
Sahabatku, mari renungkan lebih dalam.
Pernahkah lisan terdengar sinis di pendengaran saudara kita? Padahal kita tahu bahwa muslim yang baik adalah muslim yang berbaik budi dan lisan kepada sesamanya, bukan?
Saudariku, pernahkah ringan dalam bercanda namun malah terdengar seperti mencela sahabat?
Pernahkah menasihati namun malah menyakiti hati?
Pernahkah lisan terdengar sinis di pendengaran saudara kita? Padahal kita tahu bahwa muslim yang baik adalah muslim yang berbaik budi dan lisan kepada sesamanya, bukan?
Saudariku, pernahkah ringan dalam bercanda namun malah terdengar seperti mencela sahabat?
Pernahkah menasihati namun malah menyakiti hati?
Rasanya pertanyaan-pertanyaan itu sudah seharusnya dipikirkan kembali. Jangan sampai, lidah ini menjadi sarana yang tak berhenti menyakiti hati. Jangan sampai lisan manjadi alat tak beretika yang banyak membuat goresan luka di hati, menjadi sebab menetesnya air mata saudara dan sahabat terdekat.
Sahabatku, mulai sekarang, yuk lebih berhati-hati sebelum berbicara. Kapan dan di manapun, luangkan waktu untuk bermuhasabah.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”
(Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47).
(Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47).
Bagi sahabatku yang merasa lisannya pernah menyakiti hati saudara dan sahabatnya, mari jangan sungkan meminta maaf. Karena meminta maaf tak perlu menunggu momen lebaran juga kan? Apalagi lebaran berikutnya masih lama, itupun jika Allah mengizinkan kita bertemu dengan lebaran berikutnya.
Sebaiknya, ketika merasa perbuatan yang dilakukan itu salah, sudah sepantasnya kita langsung meminta maaf. Dan bertaubat kepada Allah, berjanji dan bertekad kuat tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
Sahbatku, mudah-mudahan kita bisa membentengi diri dari kejahatan lisan kita sendiri.
Sahbatku, mudah-mudahan kita bisa membentengi diri dari kejahatan lisan kita sendiri.
